Flowers

Bunga ini tuh gue duluan yang tadi pegang. Jadi sekarang hak gue buat beli bunga ini. Feyka berusaha merebut bunga mawar ungu itu dari seorang cowok. Kebetulan, bunga ini masih tersisa satu di toko Bunga tersebut.

Maaf, ya. Gue nggak ada urusan harus ngomong sama anak gila kayak loe! cowok itu pergi setelah berhasil mendapatkan bunga itu dari tangan Feyka.

Siapa sih tuh cowok. Rese banget! Feyka jadi sebal.

Perasaan Feyka yang campur aduk, membuatnya memilih pulang ke rumah. Di rumahnya sepi, tak ada siapa-siapa. Maklum, sejak setahun yang lalu ortunya meninggal, Feyka menjadi hidup sendiri karena ia anak tunggal. Untung saja ia termasuk cewek mandiri dan tegar. Beberapa saat setelah ortunya meninggal, Feyka mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan swasta. Tapi sekarang ia dan beberapa orang temannya di-PHK karena perusahaan itu bangkrut. Sekarang, Feyka masih mencari pekerjaan. Dan tadi, sebenarnya, sebelum ia mencari pekerjaan, ia ingin berziarah di makam orang tuanya dulu dan memberikan bunga mawar ungu itu. Ia teringat, ortunya dulu amat menyukai bunga mawar. Di depan rumah Feyka terdapat bermacam-macam bunga mawar. Begitu juga Feyka, ia amat menyukai mawar ungu. Warna dari bunga itu sekarang jadi lambang perasaan sedih dan kehilangan Feyka.

****

Esoknya, Feyka pergi ke Toko Bunga itu. Ia baru teringat kalau di situ ada lowongan pekerjaan ketika membaca berita di koran pagi tadi.

Permisi. Apa betul di sini ada lowongan pekerjaan? tanya Feyka pada seseorang yang biasa melayaninya ketika ia menjadi pelanggan.

Betul. Kamu berminat?

Iya.

Kalau begitu, kamu bisa hubungi Pak Xaver di ruangan sebelah itu.Pasti deh kamu diterima.

Kok bisa?

Kamu kan orang pertama yang daftar duluan. Coba aja, sana!

Ya, permisi! Feyka pergi ke ruangan yang ditunjukkan. Ia mengetuk pintu dengan harap-harap cemas.

Permisi, Pak! kata Feyka setelah tiba di ruangan Pak Xaver.

Oh ya, ada apa? Lho, kamu kan orang yang sering beli bunga di sini kan? Ada apa menemui saya? Pak Xaver seolah terkejut melihat Feyka.

Begini, Pak, saya mau melamar pekerjaan di sini.

Oh, begitu ya. Baik, kamu saya terima.

Lho, semudah itu? Nggak ada syaratnya?

Cuma jadi penjual bunga, kok, jadi nggak perlu syarat apa-apa. Apalagi sebenarnya tuh Laudy Cuma butuh seorang teman.

Laudy?

Tuh, cewek yang ada di depan tadi tuh. Berkali-kali ia bilang pada saya kalau kesepian! Sudah, sana kamu temani dia.

Eh, jadi mulai detik ini? Pak Xaver mengangguk. Setelah mengucapkan terima kasih, Feyka pergi ke luar.

Kamu yang namanya Laudy? tanya Feyka ketika bertemu cewek itu.

Iya. Kalo loe?

Feyka. Loe di sini kerja sendirian ya?

Iya. Oleh sebab itu, gue minta sama Pak Xaver buat nyariin temen kerja. Eh, nggak tahunya ada salah satu pelanggan yang mau kerja di toko bunga imitasi and asli ini!

Feyka tersenyum mendengar ucapan Laudy. Dengan adanya Feyka, Laudy merasa sedikit terhibur. Mereka cepat akrab karena sebenarnya dulu Feyka sudah mengenal Laudy. Meski saat itu ia belum tahu namanya. Kok bisa? Ya iyalah, nggak pernah kenalan. Feyka dulu kalo beli bunga Cuma manggil, Mbak, mbak, bunga ini berapa harganya? Pantes aza!

****

Hari berganti hari, Feyka merasa nyaman bekerja di Toko Bunga itu dengan Laudy. Banyaknya pelanggan yang membeli bunga tak mengganggu salah satu hak pribadi mereka masing-masing, curhat. Tapi suatu saat, cowok yang amat dibenci Feyka datang lagi. Waktu itu Laudy tak masuk kerja karena sakit. Feyka menggantikan tugasnya. Dengan terpaksa Feyka menghampiri cowok itu dan berusaha ramah kepadanya.

Ada yang bisa saya bantu? tanya Feyka seraya tersenyum.

Lho, loe ya? Yang rebutan bunga sama gue beberapa waktu yang lalu. Loe kerja di sini sejak 4 hari yang lalu kan? Yang namanya Feyka? Yang alamatnya di Jln. Evorbia no.44 itu kan?

Apaan sih, jadi cowok cerewet banget. Kalo iya, emang kenapa? Tapi darimana loe tahu semua itu? Loe siapa sih? Feyka sebal campur penasaran.

Kenalin, gue Vincent! kata cowok itu sambil mengulurkan tangannya.

Siapa juga yang mau kenalan sama cowok rese kayak loe!

Bukannya tadi loe yang bilang pingin tahu siapa gue?

Iya, sih. Tapi jawab pertanyaan gue, loe tahu semua itu darimana?

Di saat Feyka sedang berdebat dengan Vincent, tiba-tiba Pak Xaver menghampirinya.

Ada apa ini, kok ribut-ribut? Lho, Vincent, kamu di sini ya? Aduh, kamu kan perlu banyak istirahat, Nak. Ayo, ayah antar pulang. Kamu bawa mobil sendiri lagi ya? Kalau ada apa-apa lagi sama kamu, gimana dong? Pak Xaver kelihatan amat panik pada Vincent.

Aku nggak apa-apa, ayah. Udah deh, aku nggak bakal lelah. Aku Cuma pingin lihat-lihat toko ini aja.

Ya udah deh. Terserah kamu. Hati-hati, ya. Feyka, kalau terjadi apa-apa sama Vincent, kabarin saya ya! Feyka mengangguk.

Oh ya, desfiral-nya….. Pak Xaver berkata lagi.

Udah dilepas. Jamnya usah habis. Ayah tenang aja. Nggak usah panik begitu. Vincent berusaha menenangkan.

Ya udah kalau begitu. Ingat, jangan sampai lupa pesan ayah! setelah berkata begitu Pak Xaver segera pergi meninggalkan Feyka dan Vincent mengendarai mobilnya.

Hah, jadi, Pak Xaver itu……. Feyka tak bisa melanjutkan kata-katanya.

Iya, dia ayah gue. Emang kenapa? Kaget?

Ya ampun, orangnya baik gitu, tapi anaknya kok rese banget! tanpa sadar Feyka mengucap kata-kata itu.

Oh, jadi selama ini gue rese banget ya? Maaf deh, kalo gitu. Loe mau kan maafin gue?

Kok segampang itu loe minta maaf sama gue. Biasanya, cowok kan gengsinya buat minta maaf tuh lebih besar daripada cewek. Feyka cuek.

Di dunia ini kan nggak ada yang sempurna, Fey. Apalagi kalo seumpama gue meninggal nantinya, jika gue belum minta maaf sama loe, hati gue pasti nggak akan tenang di alam sana! Ucapan Vincent kali ini membuat Feyka sedikit kaget.

Maksud loe apaan sih? Kok nglibatin tentang kematian? Trus tentang desfiral-desfiral itu tadi apa? Padahal itu kan alat bantu buat orang yang sakit…… Feyka terdiam lagi.

Sakit apa? tanya Vincent.

Kalo nggak salah, sejenis Thalasemia? Feyka balik bertanya.

Tahu tuh. Pikir aja sendiri. Tapi kata-kata gue bener kan? Mumpung gue masih diberi izin untuk bernafas sama Tuhan, lebih baik gue manfaatin buat hal-hal baik, yang nggak nyakitin perasaan orang lain. Termasuk perasaan loe.

Perasaan gue?

Gue pingin jujur. Sebenarnya sejak gue ketemu sama loe, gue udah ngerasain sesuatu yang berbeda. Gue suka sama loe!

Eh, bohong nih. Masa dari tadi aku bentak-bentak kamu beraninya nembak aku!

Lho, siapa yang mau nembak loe? Gue Cuma bilang tentang perasaan gue aja kok. Lagian, kalo loe jadi pacar gue, loe akan lebih bebas. Loe mau jadi pacar gue?

Eh, hmmmm……nggak tahu. Loe serius apa Cuma bercanda? Feyka menatap wajah Vincent. Tampak sebuah sinar kasih sayang di wajah Vincent. Tapi Feyka bingung. Apa maksudnya bahwa ia akan bebas?

Serius sih. Masa nggak tahu? Vincent berusaha memancing Feyka dan membuyarkan lamunannya.

Ternyata loe orangnya nggak se-rese yang gue bayangin. Apalagi selama ini gue jomblo. Gue mau kok, jadi pacar loe. Pernyataan Feyka membuat Vincent terkejut.

Loe serius mau jadi pacar gue? Tapi, meski status loe adalah pacar gue, loe bisa kok deket-deket or pacaran sama cowok lain. Vincent berusaha menyembunyikan kegembiraannya yang diselimuti kesedihan pada Feyka.

Kok gitu, sih? Mana ada cowok yang mau diduain? Loe nggak tulus suka sama gue and nerima gue sebagai pacar loe?

Bukan gitu Fey, gue Cuma nggak ingin loe terluka karena gue tinggalin.

Loe tinggalin? Loe punya cewek lain?

Bukan. Gue tulus sayang sama loe dan tulus nganggap loe sebagai kekasih gue. Cuma, ada satu hal yang nggak bisa gue jelasin sekarang. Vincent menahan tetesan air mata yang hampir jatuh mengalir.

Apa? Loe bilang aja, mumpung toko ini sepi, jadi nggak ada yang tahu.

Gue nggak bisa, Fey, nggak bisa………. Vincent segera berlari pergi meninggalkan Feyka. Ia betul-betul tak sanggup lagi untuk tak menangis.

Kenapa Vincent secengeng itu sih? Feyka bicara pada dirinya sendiri.

Hari menjelang sore. Feyka menutup Toko Bunga itu dan hendak pergi ke rumah Pak Xaver untuk menyerahkan kunci toko. Dalam perjalanan, ia teringat Vincent lagi. Antara penasaran, rasa sayang dan benci bercampur aduk dalam benaknya. Apa Vincent hanya ingin mempermainkan perasaannya? Tapi kenapa Vincent harus mengakui kalau Vincent suka padanya? Feyka tambah bingung.

****

Sampai di depan rumah Pak Xaver, segera diketuknya pintu. Kebetulan, Pak Xaver sendiri yang membukakannya. Beliau langsung menyuruh Feyka masuk ke dalam rumah.

Sendirian, ya Pak? Vincent mana? tanya Feyka.

Di rumah sakit lagi.

Lho, tadi kan sudah. Memangnya ada apa, Pak?

Vincent nggak bilang apa-apa ke kamu? Feyka menggeleng.

Ya udah, akan tiba saatnya kamu tahu semuanya. Oh iya, sekarang kamu jadi pacarnya Vincent kan? Seneng nggak, diberi kebebasan deket sama cowok lain? tanya Pak Xaver.

Bapak udah tahu ya! Saya sih, seneng aja diberi kebebasan kayak gitu. Tapi yang saya herankan, mana ada cowok yang mau diduain. Vincent, kok malah bilang gitu sama saya. Jangan-jangan dia nggak tulus suka sama saya dan mau nerima saya sebagai pacarnya.

Bukan begitu Fey, Vincent sangat sayang sama kamu. Saking sayangnya, dia nggak ingin terluka karenanya. Oleh sebab itu, kamu jangan pernah ngira kalo Vincent itu mau mainin perasaan kamu. Ya?

Eh, ya udah kalo gitu, Pak. Saya permisi pulang dulu!kata Feyka yang disambut anggukan kepala Pak Xaver.

Setelah meninggalkan rumah itu, pikiran Feyka menjadi lebih bingung lagi. Apa sih maksud kedua orang itu tadi? Udah deh, nggak usah dipikirin dulu!

****

Esoknya, Feyka cepat-cepat pergi bekerja. Entah kenapa hari itu rasanya ada sesuatu yang lain yang membuat Feyka ingin segera sampai di tempat kerja. Betapa kagetnya Feyka, ketika dilihatnya Laudy tak ada di toko. Tapi, malah Vincent yang udah nyampe duluan di sana. Dengan ragu-ragu dihampirinya Vincent.

Vincent, loe kok di sini sendirian? Laudy mana?

Belum datang. Gue pingin buka toko ini duluan sebelum kuncinya diambil Laudy. Oh ya, Fey,ada sesuatu yang pingin gue beriin ke loe.

Apa?

Ini, loe suka banget sama bunga mawar ungu kan? kata Vincent sambil memberikan bunga yang barusan disebutkannya pada Feyka.

Wah, bagus banget. Tapi Vincent, kita kan baru jadian. Kok ngasihnya mawar ungu, bukan yang warna merah? mendengar pertanyaan itu Vincent menghirup napas dalam-dalam.

Maafin gue, Fey. Mungkin bentar lagi warna bunga itu bakal balik lagi ke gue. Warna ungu itu……. gue nggak sanggup bilang ke loe sekarang!

Maksud loe tuh apa, Vincent. Gue sulit ngertiin setiap omongan loe.

Nggak usah dibahas lagi, Fey. Oh ya, ada satu lagi. Edelweis ini buat loe. Lambang cinta gue yang akan selalu abadi meskipun gue nggak bisa ngedampingin loe nantinya. Vincent memberikan bunga itu pada Feyka.

Tuh kan, ngomongnya ngelantur lagi. Maksud loe apaan sih, cinta loe abadi, tapi nggak bisa ngedampingin gue? Tapi thanks ya atas pemberiannya. Gue suka banget!

Gue seneng ngelihat loe tersenyum. Kalo loe bahagia, gue juga bahagia. Tapi kalo sedih, gue ikut sedih. Makanya, loe harus janji bakal tersenyum terus!

Iya deh, iya! Feyka tersenyum.

Itu Laudy udah datang. Gue tinggal ya! Feyka mengangguk. Kenapa sih, Feyka nggak bisa ngertiin kata-kata Vincent. Apa maksudnya?

****

Hari berganti hari. Sudah seminggu ini yang menyerahkan dan mengambil kunci toko adalah Laudy. Jadi, Feyka tak pernah bertemu Vincent selama seminggu itu. Ia merasa amat lelah sepulang kerja. Oleh sebab itu, Feyka jadi jarang banget menemui Vincent. Tapi, kenapa Vincent juga tak pernah menemui dirinya? Ke mana Vincent selama seminggu ini? Ia ingin menghubunginya, sayang banget nggak punya telepon and rumahnya jauh banget dari wartel.

Dan tiba-tiba pagi ini Feyka menerima kabar mengejutkan dari Pak Xaver.

Feyka, tolong kamu segera ikut saya ke rumah sakit. Ujar Pak Xaver sambil menangis.

Lho, ada apa pak? pertanyaan Feyka tak dihiraukan. Pak Xaver segera menyeretnya masuk ke dalam mobil dan menuju rumah sakit.

Begitu berada di rumah sakit, dengan berlari Pak Xaver mengajak Feyka untuk masuk salah satu ruangan UGD. Betapa terkejutnya Feyka ketika melihat Vincent terbaring lemah di ruang tersebut.

Vincent? Loe kenapa…. Dokter, Vincent sakit apa? Feyka beralih pada dokter yang ada di samping Vincent

Dia….sakit Talasemia Major! jawab dokter singkat.

Talasemia? Penyakit apa dok? Bisa sembuh kan? Feyka panik sehingga ia lupa kalau sebenarnya sudah tahu tentang penyakit tersebut.

Penyakit ini hampir sama seperti Leukimia. Cuma, jika terserang penyakit ini, orang tak akan mampu memproduksi hemoglobin darah sehingga diperlukan transfusi darah terus menerus untuk menyambung hidup. Dan kini, kondisi Vincent sudah amat lemah. Pihak Rumah Sakit tak bisa menolong lagi. Tinggal menunggu saatnya tiba…… Dokter memandang Vincent.

Maksud Dokter, umurnya….. Dokter langsung mengangguk meski Feyka belum meneruskan kata-katanya. Vincent tersenyum.

Fey, gue pingin tanya , loe udah nemuin pengganti gue? Vincent menyahut.

Vincent, maksud loe apa sih?

Fey, gue nggak pingin loe terluka karena gue. Bentar lagi gue pergi jauh. Gue nggak bisa selalu ada dalam kehidupan nyata diri loe. Tapi gue janji, loe bakal selalu ada dalam hati gue. Gue sayang loe, Fey. Pesan terakhir gue, jaga bunga kesukaan loe itu yaitu mawar ungu dan juga jangan lupa, meski loe nggak begitu suka edelweis, tapi loe harus jaga juga ya! Cinta gue sama kayak lambang bunga itu, abadi!

Semua hening ketika Vincent bicara seperti itu. Feyka tak mampu menahan air mata yang telah membasahi pipinya. Pak Xaver memalingkan wajah dan menutup telinga. Laudy yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Vincant pada Feyka telah menghabiskan 1 pack tissue untuk menghapus air matanya. Dokter yang ada di ruangan itu tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kondisi Vincent sudah terlalu lemah dan tak ada harapan lagi.

Fey, gue sayang loe!

Iya, gue tahu. Gue juga kok. Loe jangan pergi ya!

Makasih ya semuanya. Feyka, Laudy, Papa, Dokter, dan semua yang ada di sini! semua orang itu memandang Vincent.

Mereka tak tahu, ucapan itu adalah kata-kata terakhir Vincent. Suara Vincent menghilang, berganti kedipan mata, dan……..ia menutup mata selamanya.

Vincent…. jangan pergi….. jangan tinggalin gue! Feyka menjerit histeris.. Aliran air mata mengalir lebih deras dari matanya.

***********

Hari itu, hari terakhir Feyka bisa melihat senyuman Vincent. Setelah kematian Vincent, Feyka segera mengambil mawar ungu yang ia tanam di halaman rumahnya dan bunga edelweis imitasi dari Toko Bunga. Ia pergi ke pemakaman Vincent, ditaburkannya bunga mawar ungu itu dan diletakkannya edelweis itu di samping nisan Vincent. Tak Cuma makam Vincent yang diberinya kedua macam bunga tersebut. Tapi juga makam kedua orang tuanya. Kebetulan, makam mereka berdekatan.

Vincent, moga loe tenang di sana sama ortu gue. Gue sayang banget sama kalian. Makasih juga ya atas kebaikan kalian semua selama ini. Bunga-bunga ini, akan selalu gue jaga, sesuai pesan kalian. Loe sama ortu gue selalu ada di hati. Meski berat, gue akan berusaha nglepasin loe. Juga mama, papa! air mata Feyka tidak berhenti sampai di situ.

Vincent, mama, papa, doain Feyka ya. Semoga Fey bisa menjalani kehidupan baru yang menyenangkan meski jauh dari kalian. Sekali lagi, Fey bener-bener ngucapin terimakasih pada kalian semua yang telah membuat Fey bisa merasakan indahnya kasih sayang dan cinta. Selamat jalan, semuanya! Semoga kalian diterima di sisi Tuhan, dan aku bisa segera bertemu kalian lagi. Feyka berusaha tersenyum meski berat.

Sebelum Feyka pulang, dilihatnya makam Vincent lagi. Makam yang dekat dengan makam kedua orang tuanya. Ia melihat bagaimana indahnya ketiga kuburan yang ia taburi bunga mawar ungu dan ia hiasi edelweis. Bunga kamboja yang ada di pemakaman itu menggayunginya dan menjadi saksi kepergiannya. Ia merasa kehilangan orang-orang yang disayanginya untuk yang kesekian kalinya dan menjalani hidup sendiri lagi.