Masih Perlukah Kegiatan Pramuka?

Saat ini gerakan Pramuka sudah mengalami perubahan signifikan, apalagi berdasarkan kurikulum 2013, pramuka wajib diikuti oleh seluruh peserta didik tidak hanya untuk tingkat SD tetapi juga untuk tingkat SMP. Pramuka dimasukan ke dalam jam pelajaran di sekolah, sehingga mau tidak mau wajib diikuti oleh peserta didik. Banyak pelatihan dan lomba yang diadakan untuk kemajuan gerakan pramuka.

Tapi kenyataan di lapangan ternyata berbeda. Beberapa guru SMP yang ada di beberapa kota besar mengalami kesulitan karena banyak anak-anak sekolah yang tidak mau mengikuti kegiatan pramuka karena dianggap membosankan dan sudah ada sejak peserta didik duduk di bangku Sekolah Dasar.

Selain itu kegiatan pramuka menurut para siswa di perkotaan kurang keren, dan tidak bisa digunakan untuk program prestasi untuk tingkat sekolah selanjutnya. Berbeda dengan prestasi ekstrakurikuler lain yang bergerak dalam bidang akademik dan olahraga, hasil prestasinya bisa digunakan untuk program prestasi di tingkat selanjutnya.

Ini merupakan tantangan bagi pembina pramuka, penggerak pramuka dari tingkat kecamatan, kabupaten/kota, gubernur dan tingkat nasional serta masyarakat yang peduli dengan pramuka. Kegiatan Pramuka harus bisa menjadi ekstrakurikuler yang menyenangkan dan bermanfaat bagi peserta didik, sehingga anak-anak SMP merasa perlu dan membutuhkan kegiatan pramuka.

Setelah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Kepramukaan di Kuningan, ternyata banyak hal yang bisa dipetik dari kegiatan pramuka ini. Diantaranya adalah kegiatan latihan pramuka harus dibuat yang menyenangkan dan bermanfaat bagi siapapun tidak hanya saat mereka menjadi peserta didik tetapi juga untuk kehidupannya di kemudian hari.

Kegiatan pramuka harus dilakukan dengan cara-cara yang menyenangkan, dengan maksimal kegiatan latihan pramuka selama dua jam, itu pun harus diisi dengan kegiatan-kegiatan yang menarik tidak hanya upacara pembukaan dan penutupan saja, tetapi diisi dengan kegiatan permainan, juga diisi dengan materi inti seperti semaphore, morse, tali-temali, baris-berbaris dan lain sebagainya.

Walaupun dalam kenyataannya semaphore, morse dan sandi-sandi sudah tergantikan dengan yang namanya ponsel, tablet, komputer dan lain-lain, tetapi kegiatan ini masih dibutuhkan saat dalam keadaan darurat, tidak ada aliran listrik dan jarak antara orang yang satu dengan yang lainnya berjauhan namun masih bisa terlihat.

Orang tua yang ada di Indonesia masih belum menyadari pentingnya kegiatan pramuka. Padahal sekarang di Jepang orang tua menginginkan anaknya harus bisa survive atau bertahan hidup saat-saat situasi darurat seperti terkena bencana gempa bumi, tsunami, gunung meletus dan lain sebagainya.

Kegiatan pramuka mampu membuat anak bisa hidup mandiri dan bisa bertahan hidup pada saat keadaan darurat seperti ada bencana gempa bumi, tsunami, gunung meletus, dan lain sebagainya.

Selain itu Pramuka mengajarkan peserta didik untuk bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pramuka harus bisa belajar hidup disiplin, memiliki rasa kasih sayang, patriot, sopan, rela menolong, tabah, jujur, hemat, bersahaja, dan bertanggungjawab. Kurang lebih nilai itu yang bisa diambil dari Gerakan Pramuka jika dilihat dari sejarahnya.

Untuk bisa mewujudkan gerakan pramuka yang disukai oleh anak remaja di Indonesia, maka harus dibuat inovasi-inovasi dalam kegiatan kepramukaan yang disesuaikan dengan kemajuan teknologi dan usia anak remaja. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu akan membuat gerakan pramuka akan diminati oleh peserta didik yang ada di daerah perkotaan dan di pedesaan.