Dari Ulama, Sultan, Hingga Pejuang

Pernah denger nama Dr AK Gani, Syekh Abdul Somad, atau Sultan Mahmud Badarudin II? Hmmm.. kayaknya yang terakhir ini mungkin paling akrab di telinga kamu. Tapi, gimana dengan yang pertama dan kedua? Kebanyakan anak muda sekarang jarang mendengar nama mereka, bahkan mungkin aja nggak pernah sama sekali. Nama-nama itu, banyak dijadikan nama jalan, mereka toko penting di Sumatera Selatan (Sumsel).

Menurut Kemas Ari, Dosen Sejarah IAIN Raden Fatah, tokoh-tokoh Sumsel ini berasal dari berbagai kalangan, baik tokoh ulama, pejuang, ataupun dari kalangan kesultanan. Nah, apa kalian pada kenal sama tokoh ulama kita? Yup, salah satu yang paling berjasa ialah Syekh Abdul Somad Al-Palimbani.

Beliau merupakan tokoh Islam Sumsel dengan salah satu warisannya ialah ratib saman, yang sampai sekarang berkembang di Sumsel, beber Kemas Ari, juga menjabat Sekretaris Masyarakat Sejarah Indonesia Sumsel.

Pria berkacamata ini juga mengatakan dari Palembang banyak lahir ulama-ulama yang cukup berpengaruh di Nusantara, seperti Kyai Pedatuan (Kms H Abdullah Azhari), Kiai Cek Ming (Baba Haji Muhammad Amin Azhari), dan Ki Merogan (Ki Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs H Mahmud). Nama tersebut terakhir dijadikan nama sebuah mesjid di Muara Sungai Ogan, Kertapati. Ulama-ulama tersebut berjasa dalam penyebaran ajaran Islam di Sumsel dan Nusantara. Kalian tau nggak, kalo Mbah Priok itu, ternyata juga berasal dari Palembang.

Dari kalangan kesultanan, kita pasti tahu dong Sultan Mahmud Badaruddin II (Raden Hasan), salah satu pahlawan nasional Indonesia. Selain dikenal sebagai seorang sultan, SMB II juga seorang ulama, jelas Kemas Ari lagi.

Masalahnya nih, kebanyakan orang cuma tahu SMB II aja, tanpa tahu tokoh-tokoh kesultanan lainnya. Padahal, masih ada Sultan Mahmud Badarudin I (Jayo Wikramo), Sultan Ahmad Najamudin I (Adikusumo), dan Sultan Muhammad Bahauddin (ketiganya dimakamkan di Kawah Tengkurep, Lemabang). Masih banyak lagi lho, sultan-sultan lainnya penguasa Kesultanan Palembang Darussalam. Nggak cukup kalo disebutin satu-satu.

Palembang, kota yang terkenal dengan kerajaan Sriwijaya-nya pun punya pejuang kemerdekaan tersendiri, lho. Salah satunya ialah Dr Adenan Kapau Gani, seorang pejuang angkatan 45 yang mengabdikan dirinya untuk rakyat Sumsel. Dr AK Gani adalah seorang dokter, dan wakil perdana menteri di masa pemerintahan Amir Sjarifuddin. Beliau juga pernah menjadi Gubernur Militer Sumsel pada periode revolusi fisik melawan Agresi Militer Belanda dan jadi anggota delegasi Perundingan Linggarjati pada 1946.

Dr AK Gani dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 9 November 2007. Namanya diabadikan jadi nama sebuah rumah sakit militer di sebelah Monpera. Selain beliau masih ada pejuang-pejuang laen, kayak Kolonel H Barlian, Kapten A Rivai, Letkol Iskandar, Kolonel Atmo, dan lainnya.

Gimana dengan kalian sendiri, apa pada kenal sama tokoh Sumsel? Salah satu yang ku kenal ialah Almarhum Mir Senen, seorang tokoh seniman Sumsel, ujar Hary Hernadi (22), alumni SMA Karya Bakti Palembang.

Tapi, kenyataannya nggak banyak yang tahu dan kenal sama sejarah tokoh-tokoh Sumsel di atas. Kayak penuturan Dendy (23), mahasiswa Politeknik Sriwijaya, Jujur, satu pun nggak ada tokoh Sumsel yang aku kenal, tuh. Hehe.., katanya. Wah, parah, nih. Masa satu pun nggak ada yang kenal?!

Kebanyakan anak muda sekarang, kalo ditanya siapa pahlawan Sumsel, jawabnya cuma Sultan Mahmud Badarudin II. Kok gitu? Remaja sekarang kurang banyak baca dan tidak peduli dengan sejarah. Muatan lokal di dalam kurikulum pendidikan sejarah pun sangat sedikit. Harusnya pemerintah memperbanyak muatan lokal dalam buku-buku sejarah, kritik Kemas Ari.

Pemerintah juga mesti ngasih perhatian lebih sama obyek-obyek sejarah, biar nggak terbengkalai. Pastinya dari kitanya juga dong, mesti ikut memperhatikan dan merawat dengan sebaik-baiknya. Sekal-kali, nggak ada salahnya kan, kita jalan-jalan ke museum, monumen, taman purbakala, atau obyek sejarah lain. Jangan ke mall melulu, dong. Kalo bukan kita ngasih perhatian, siapa lagi?